Pemenang Teacher Story 1

Dulu Ku Diajar Kini Ku Mengajar


Oleh : Mamas Aji


Lima belas tahun yang lalu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, masih teringat dengan jelas di telingaku pertanyaan dari guru ku. Pak Satiman namanya. Beliau bertanya kepada murid-muridnya. “Anak-anakku, apakah cita-cita kalian?. Berbagai macam jawaban keluar dari celoteh anak-anak di kelas tersebut, “Jadi Dokter pak Guru! Jawab salah seorang murid dengan mantap diikuti keriyuhan murid-murid yang lain. “Inyong pengin jadi tentara pak Guru, jawab siswa kurus di pojok kelas. Suasana kelas menjadi ramai dengan  celoteh murid ini, Rusman namanya. Sontak teman-temannya menimpali jawaban Rusman ini. “Masa gering-gering dadi tentara, ya kabur kenang angin. Diiringi riuh gelak tawa murid-murid yang lain. Berbagai macam cita-cita disebutkan oleh teman-teman sekelas ku waktu itu, ada yang ingin jadi dokter, jadi tentara, jadi polisi, jadi pedagang, jadi pengusaha, jadi penyanyi, sampai ada yang pengin jadi ebeg. Begitulah potret kepolosan dan keluguaan anak-anak SD. Namun Pak Satiman dengan penuh kesabaran menanggapi setiap tingkah murid-muridnya ini.

Kini giliranku yang ditanya, “Ji, apa cita-citamu? tanya Pak Satiman. “saya pengin jadi Guru pak, jawabku penuh keyakinan. Kulihat senyum kebahagian di wajah tua Pak Satiman sesaat mendengar jawabanku tadi. “Lah yang lain pada pengin jadi dokter, tentara, polisi, pedagang kok kamu pengin jadi guru ji?“ Sergah Pak Satiman. “Iya pak saya pengin jadi guru soalnya guru pekerjaan yang mulia, kan tidak bakalan ada polisi, tentara, dokter, dan yang lain-lain kalau tidak ada guru, jawabku dengan semangat.

Sejak peristiwa itulah aku bertekad di kala dewasa nanti ingin menjadi guru seperti Pak Satiman. Ku lalui tahap-tahap dalam kehidupan ini dengan diajar oleh banyak guru, baik itu guru di sekolahan umum yang mengantarkan pada kecerdasan intelektual maupun guru-guru di madrasah-madrasah yang mengantarkan ku pada kecerdasan rohani atau spiritual. Berinteraksi dengan guru-guru selama  mengenyam pendidikan menjadikan ghirah di dalam dadaku semakin memuncak untuk menjadi guru.

Ud ‘uni astajib lakum, begitulah yang diajarkan Allah, Tuhan pengabul doa. Berdoalah maka akan dikabulkan. Maka setelah rangkaian Uzlah panjang yang ku lakukan, akhirnya cita-cita masa kecilku terwujud. Iya, menjadi seorang guru, seseorang yang digugu lan ditiru  menurut pengejawantahan masyarakat pada umumnya.

Pahit getirnya menjadi guru akhirnya ku rasakan, dulu yang ku kira menjadi guru itu bisa mendapatkan segalanya, akhirnya ku tahu bagaimana realitanya. Dari honor yang hanya cukup untuk beli sate sampai ke-njrimetan dalam mendidik murid dalam upaya menyadarkan mereka agar marifatullah dan ‘ibadatullah.  

Semua halang rintang dalam menjadi guru tak menyusutkan semangatku untuk terus mengabdi, turut serta mencerdaskan anak-anak bangsa calon penerus kejayaan Indonesia karena aku cinta menjadi guru. Kalau sudah atas nama cinta maka sesuatu akan dijalani dengan riang gembira layaknya seorang yang sedang jatuh cinta pada lawan jenisnya.

Aku cinta menjadi guru karena guru pekerjaan yang mulia tiada tiara, setelah ku lakukan rihlah pendidikan dari satu tempat ke tempat yang lain kini benar-benar ku sadari bahwa guru adalah pekerjaan yang mulia. Diantaranya :

1) Memiliki sifat iffah (memelihara diri dari minta-minta), yang dihargai dan dihormati kedudukannya oleh Allah. Dan Alloh perintahkan kepada para aghniya (murid/masyarakat/pejabat) memberikan perhatian khusus kepada mereka. {QS. Al-Baqarah (2): 273}.


2) Allah SWT memberi balasan untuk guru/pendidik yang mendidik dan mengajarkan kebaikan atau pelajaran yang bermanfaat, sama seperti orang-orang yang melakukannya. Rasulullah SAW bersabda: 

 

“ Barangsiapa yang mengunjukkan/mengajarkan kebaikan, pahalanya sama dengan orang yang melakukan kebaikan itu “. (HR. Muslim dari Ibnu Masud dalam Kitab Faidul Qadir, Juz. 6, Hal. 127, Penulis: Al-Imam Al-Manawy Rahimahulloh). 

 

3) Allah SWT, para Malaikat, penghuni langit dan bumi bersholawat (mendoakan) para pendidik yang mengajarkan kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:

 

 “ Sesungguhnya Allah, Malaikat-malaikat-Nya, penghuni langit dan penghuni bumi, hingga semut dalam lubangnya dan ikan dalam lautan, bersholawat (mendoakan) para pendidik manusia kepada kebaikan “. (Kitab Mukhtarul Hasan Wasshahiih, Penulis: Abdul Baqi Shaqar, Hal. 380). 

 

4) Para guru dan pendidik senantiasa akan mendapatkan pahala dari Allah sebagai imbalan dari hasil pendidikan dan pembinaannya, meskipun dia sudah mati/wafat. Rasululloh SAW bersabda: 

 

“ Sesungguhnya dari antara amal dan kebaikan seorang Mukmin yang tetap dia peroleh pahalanya, walaupun dia sudah wafat, adalah: Ilmu yang diajarkan dan disebarluaskan-nya; anak yang saleh yang ditinggalkannya; atau mushaf/pegangan misalkan buku-buku/al-quran/kitab-kitab yang ditinggalkannya; atau masjid yang dibangunnya; atau rumah untuk Ibnu Sabil yakni anak yatim piatu/panti jompo yang dibangunnya; atau saluran air yang dibuatnya; atau shadaqah yang dikeluarkannya dari harta kekayaannya pada waktu hidupnya (shadaqah jaariyah), itu semua dia akan mendapatkan pahalanya setelah dia wafat “. (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqy dari Aba Hir dalam Kitab Mukhtarul Hasan Wasshahiih, Penulis: Abdul Baqi Shaqar, Hal. 381).

           

            Maka aku bangga menjadi guru, aku cinta pekerjaanku, akan ku balas pengajaran yang dulu diberikan oleh guru-guru dengan mengajar murid-murid ku dengan hati agar mereka semua kenal dengan Illahi Robbi.

 


Editor: NA